-->

Informasi Mengenai Komplikasi Lupus | Milagrosindo

Gejala SLE yang ringan atau terkendali dengan baik biasa tidak terlalu merusak rutinitas sehari-hari penderitanya. Risiko komplikasi juga mungkin akan menurun.

Seiring bertambahnya usia, gejala SLE mungkin akan banyak berkurang. Penderita SLE yang berusia di atas 50 tahun umumnya mengalami hal ini. Di antara penderita SLE wanita juga ada sebagian yang mengaku kondisinya membaik setelah mengalami masa menopause.

Tetapi Anda harus tetap waspada bila menderita SLE. Risiko keluarnya kondisi serius dan komplikasi yang mematikan tetap ada.

komplikasi lupus

SLE dan Komplikasi Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular adalah istilah umum untuk semua jenis penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah, seperti stroke, serangan jantung dan tekanan darah tinggi. Selain itu, beberapa penderita SLE juga bisa mengalami radang pada kantung yang membungkus jantung (perikarditis) atau pada otot-otot jantung (miokarditis).

SLE bisa mengakibatkan inflamasi dalam jantung dan pembuluh darah. Lantaran itu, penderita SLE diperkirakan mempunyai risiko 6-8 kali lebih tinggi buat mengalami penyakit kardiovaskular. Risiko ini bisa dikurangi melalui langkah-langkah berikut:

  • Berolahraga secara teratur. Setidaknya 2,5 jam dalam seminggu dengan jenis olahraga yang dapat membuat napas Anda sedikit terengah-engah.
  • Menjaga berat badan yang ideal dan sehat.
  • Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. Misalnya makanan rendah lemak jenuh, rendah gula, rendah garam, banyak buah, dan sayuran setidaknya lima porsi dalam sehari.
  • Berhenti merokok.
  • Membatasi konsumsi minuman keras. Batas konsumsi per hari yang direkomendasikan adalah 2-2,5 kaleng bir untuk pria dan maksimal 2 kaleng bir untuk wanita. Sekaleng bir biasanya berkadar alkohol sebanyak 4,7%.

SLE dan Komplikasi Nefritis Lupus

Inflamasi yang terjadi pada ginjal untuk waktu yang lama akibat SLE memiliki potensi untuk menyebabkan penyakit ginjal yang serius. Komplikasi ini disebut nefritis lupus.

Diperkirakan sekitar 50% di antara penderita SLE yg mengidap nefritis lupus. Penyakit ini pula cenderung berkembang dalam tahap awal SLE (umumnya dalam 5 tahun pertama). Tes darah umumnya akan dianjurkan buat memantau kondisi ginjal Anda secara saksama . Beberapa tanda-tanda lupus nefritis mencakup:

  • Rasa gatal
  • Sakit dada
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Sering buang air kecil
  • Kencing darah
  • Pembengkakan pada kaki
Nefritis lupus sering tidak menunjukkan gejala, tetapi Anda sebaiknya tetap waspada. Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal.

Tekanan darah tinggi juga dapat disebabkan oleh penyakit ini. Jika tidak ditangani, tekanan darah tinggi akan mempertinggi risiko penyakit jantung yang serius (misalnya, serangan jantung atau angina).

Penanganan untuk lupus nefritis dapat dilakukan dengan imunosupresan, misalnyaazathioprine, mycophenolate mofetil, ataucyclophosphamide.

RisikoPenyakit Autoimunyang Lainnya

Tingkat risiko penderita SLE yang dapat mengidap penyakit autoimun lain diperkirakan sekitar 30%. Di antaranya adalah penyakit tiroid, sindrom Sjogren, atau sindrom Hughes (sindrom antifosfolipid).

Sindrom Sjogren pada penderita SLE

Sindrom Sjogren bisa terjadi dalam kurang lebih 12% penderita SLE. Penyakit ini menyerang & Mengganggu kelenjar liur dan air mata. Gejala primer dalam kelainan sistem kekebalan tubuh ini merupakan mata dan lisan yang kemarau.

Sindrom Hughes (sindrom antifosfolipid) dalam penderita SLE

Sindrom Hughes dapat mempertinggi risiko terjadinya penggumpalan darah pada arteri dan vena. Penggumpalan darah pada arteri dapat menyebabkan stroke dan serangan jantung. Sedangkan jika terjadi pada vena, penggumpalan darah dapat mengakibatkan trombosis vena dalam(deep vein thrombosis/DVT). Penyakit ini juga berbahaya bagi ibu hamil karena dapat mempertinggi risiko komplikasi selama masa kehamilan.

Diagnosis buat sindrom Hughes pada penderita SLE bisa dilakukan dengan menyelidiki eksistensi:

  • Komplikasi yang berhubungan dengan pembuluh darah dan/atau kehamilan.
  • Antibodi antifosfolipid dalam darah.

SLE dan Kehamilan

SLE biasanya memang tidak memengaruhi kesuburan (fertilitas). Tetapi penderita SLE wanita (terutama yang mengidap sindrom Hughes) sebaiknya tetap waspada karena komplikasi umumnya terjadi pada masa kehamilan mereka. Di antaranya adalah pre-eklampsia, kelahiran prematur, keguguran dan kelahiran mati.

Dokter biasanya akan menganjurkan obat-obatan untuk mengurangi kecenderungan penggumpalan darah. Penanganan dengan aspirin dan suntikan heparin dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan untuk pasien sindrom Hughes.

Risiko lain yg mungkin terjadi merupakan agresi gejala lupus dalam masa kehamilan, misalnya:

  • Pembengkakan pada kaki dan tangan.
  • Rambut rontok.
  • Wajah memerah.
  • Nyeri otot, tulang, dan sendi.
Obat-obatan yang kualitasnya terjamin tidak akan memengaruhi ibu serta bayi. Tetapi ada beberapa jenis obat yang dinilai aman digunakan untuk mengurangi risiko terjadinya serangan SLE pada masa kehamilan. Di antaranya adalahHydroxychloroquine (obat anti-malaria),azathioprine (imunosupresan), danprednisolone (kortikosteroid).

Dokter pula mungkin akan menyarankan Anda buat menahan kehamilan supaya mengurangi risiko komplikasi dalam masa kehamilan. Anda biasanya diminta buat menunggu selama enam bulan tanpa mengalami serangan SLE dan mempunyai taraf fungsi ginjal yg normal atau mendekati normal sebelum hamil.

Salam Sehat, Sukses, & Sejahtera untuk kita semua.

0 Response to " Informasi Mengenai Komplikasi Lupus | Milagrosindo "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel